Setiap malam orang berdatangan kerumah calon kepala desa. Kursi yang telah disediakan tidak dapat menampung yang datang oleh karenanya banyak yang berdiri atau mondar mandir tak keruan. Meja yang penuh dengan hidangan juga tidak dapat bertahan lama, sebentar-sebentar pramusaji datang mengambil gelas dan piring kosong dan menggantinya dengan yang baru.
Disisi lain ada seseorang yang hanya berdiri dan mengamati. Ada yang berteriak dengan keras untuk meyakinkan lawan bicaranya, adapula yang berbicara dengan berbisik-bisik penuh dengan rasa sayang dan tidak luput dari pengamatanya adalah seseorang yang rakus melahap semua jenis makanan didepanya, bahkan setiap selesai makan minum tidak lupa mengeluarkan plastik kresek untuk memungut sisa makanan.
Sore itu seseorang yang mengamati tingkah laku tamu di rumah calon kepala desa datang kerumahku dan secara kebetulan bersamaan dengan tukang bangunan yang sedang merenovasi masjid, yang kedatanganya adalah untuk berembug kebutuhan material yang akan digunakan besok hari.
Kami bertiga ngobrol tentang pilkades yang diawali dari banyaknya orang yang datang kerumah calon kepala desa. dan yang kemudian merambah kepenilaian tujuan kedatangan mereka. Obrolan kami menjadi fokus terhadap seseorang yang rakus dan mengumpulkan sisa-sisa makanan.
Tukang bangunan memberi penilain terhadap orang rakus ini hanya memanfaatkan momen pilkades untuk makan dan minum gratis saja sedangkan pilihanya bisa lain. Akupun setuju dengan pendapatnya bahkan memberi saran agar orang itu diperingatkan dan bila perlu diusir. Pendapat kami berdua ditanggapi oleh seseorang pengamat dengan penjelasan bahwa sebenarnya orang tersebut tidak punya penghasilan dan orang tidak mau memperkerjakan dia karena sudah tua dan sibuk merawat istrinya yang sakit.
Diceritakan juga tentang keadaan orang ini bahwa setiap kali dia akan pergi kerumah calon kepala desa maka istrinya yang sedang sakit dan suka kabur itu mesti diikat kaki dan tanganya pada tempat tidur terlebih dahulu dan baru dilepas setelah dia datang serta memberi makan. Lebih lanjut diceritakan tentang kenapa istrinya suka kabur yaitu bukan karena gila tetapi karena akan pergi untuk minta makan kepada kedua orang tuanya yang sudah meninggal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar