POHON PETE
Papan bimbingan, 4-10-2013
Sini tak
critani!.
Pak Dwi punya
tetangga. Sore sore dia datang kerumah sambil mengis. Disela-sela tangisnya dia
mengutarakan maksud kedatanganya untuk menjual pohon pete yang umurnya sudah
puluhan tahun, namun belum pernah berbuah. Lebih lanjut tetangga pak Dwi menjelaskan
bahwa hasil penjualannya nanti, akan digunakan untuk biaya berobat anakny yang
sedang sakit.
Rasa cinta dan
empati yagn dianugerahkan Tuhan di terapkan pada sesame dengan cara membeli
pohon pete yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Pak Dwi membayar sesuai dengan
harga yang diminta oleh tetangga yang sedang kena musibah. Sebagai catatan
pohon yang sudah dibeli belum ditebang sampai dibutuhkan nanti. Akhirnya harga
dan persyaratan disetujui.
Keesokan hari di
kantor pak Dwi ngobrol dengan topik pohon yang tidak mau berbuah. Dari obrolan
tersebut rata-rata mereka menyarankan agar pohon tersebut dikuliti/dikerok
sedikit dan jangan sampai kena kambium dan kemudian dipaku. Coba saja kata
temanya yang suka pada pertanian.
Kesimpulan
diskusi di kantor sudah diterapkan sebulan yang lalu dan kini tanda-tanda
keberhasilan sudah nampak. Pada awalnya pohon meranggas sampai semua daun
habis, setelah itu muncul tunas-tunas baru yang segar. Selang beberapa minggu
pada pucuk tunas baru muncul butiran-butiran kecil yang berarti pohon telah
berbunga.
Disuatu sore pak
Dwi duduk dibangku depan rumah dan tersenyum membayangkan sebentar lagi akan
panen pete dan tidak lagi merasa kemahalan dalam membeli pohon pete. Lamunanya
pecah ketika istrinya datang dan bercerita. Pak tadi siang si penjual pohon
pete datang dan bercerita bahwa dulu ia hanya menjual pohon pete saja jadi tidak
menjual buahnya. Oleh karena itu nanti apabila pohon petenya berbuah maka buah menjadi
miliknya, karena dulu yang dijual hanya pohonya saja.
Keesokan hari
terdengar suara gergaji mesin meraung-raung memekakan telinga dan disusul
benturan dahsyat antara pohon pete berdiameter 70 cm dengan tanah.
“Jebredddddddd.” Disela sela kesunyian pak Dwi menemui tetangganya dan dengan penuh kesopanan seperti layaknya
satpam di kantor bank dia matur, “bapak pohon petenya sekarang saya butuhkan,
mengenai buahnya mangga mang punduti piyambak”,.